![]() |
| Perilaku sportif ditunjukan kedua pemain Persib dan persibaya dalam gala final piala presiden 2026. |
GIANYAR – Tensi tinggi, benturan sengit, hingga drama adu penalti mendebarkan mewarnai panggung puncak Piala Presiden 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis (6/8) malam. Usai pertarungan maraton 120 menit berkesudahan 1-1, Persebaya Surabaya akhirnya mengunci gelar juara setelah menang tipis 6-5 atas Persib Bandung lewat adu tos-tosan.
Eksekusi dingin Gledson Paixsao Da Silva menjadi penentu yang meletupkan tangis haru dan sukacita di kubu Bajul Ijo. Namun, di balik riuk selebrasi tersebut, panggung sepak bola Indonesia menyaksikan adegan yang tak kalah berkelas: respek dan sportivitas tanpa batas.
Aksi Classy di Tengah Euforia Kampiun
Sebelum trofi diangkat, kiper Persebaya, Reza Arya, bersama Ernando Ari melakukan aksi spontan penuh respek. Bukannya langsung larut dalam pesta, mereka melangkah menghampiri penggawa Maung Bandung. Jabat tangan erat, pelukan hangat, dan kata-kata penyemangat dilontarkan kepada rival yang baru saja ditundukkan.
Rivalitas membara selama dua jam seketika mencair. Puncaknya terjadi saat prosesi penyerahan medali. Para pemain Persebaya spontan berbaris rapi membentuk guard of honour (lorong penghormatan) sembari memberikan tepuk tangan riuh bagi skuad Persib saat melangkah ke podium runner-up. Sebuah gestur berkelas yang menegaskan: di atas lapangan kita rival, di luar lapangan kita saudara.
Ketatnya Laga Dijaga Teknologi, Sportivitas Dijaga Pemain
Sejak babak penyisihan hingga partai pamungkas, turnamen yang mengusung spirit "Bertanding untuk Juara, Bersatu untuk Indonesia" ini dipenuhi persaingan panas. Semangat juang seolah selaras dengan jejak para pahlawan di stadion penyelenggara—mulai dari Stadion Si Jalak Harupat (Bandung), Gelora Bung Tomo (Surabaya), hingga Kapten I Wayan Dipta (Gianyar).
Di tengah jual-beli serangan berkecepatan tinggi, penerapan penuh Video Assistant Referee (VAR) menjadi garda terdepan penjamin keadilan:
- Pengambilan Keputusan Krusial: Mulai dari hadiah penalti Balsa Sekulic di semifinal, hingga penganuliran gol dan kartu merah langsung Mariano Peralta pada menit ke-112 akibat pelanggaran keras, semua dieksekusi transparan via layar VAR.
- Lapang Dada: Uniknya, keputusan tegas wasit dan VAR direspons sangat dewasa oleh para pemain. Tanpa protes berlebihan, Peralta meninggalkan lapangan dengan senyuman dan menerima hukuman secara gentleman.
Tak hanya itu, momen-momen fair play bertebaran sepanjang pertandingan:
- Gustavo Almeida dan Adzikry Fadlillah sigap mengulurkan tangan membantu lawan yang tergeletak.
- Pelatih Persija, Shin Tae-yong, meminta pemainnya mengembalikan penguasaan bola (fair play ball) usai lawan mengalami cedera.
- Yuran Fernandes langsung menyampaikan permohonan maaf usai tak sengaja melanggar kiper lawan.
Kemenangan bagi Sepak Bola Indonesia
Piala Presiden 2026 mungkin telah usai dengan Persebaya Surabaya keluar sebagai sang kampiun. Namun, warisan terbesar dari turnamen pra-musim ini bukanlah sekadar angka di papan skor atau trofi di lemari pajangan.
Dari bumi Bali hingga seluruh penjuru Nusantara, turnamen ini membuktikan bahwa tensi tinggi dan jiwa kompetitif bisa berjalan beriringan dengan nilai-nilai fair play. Sebuah pesan kuat bahwa sepak bola Indonesia telah naik kelas—lebih matang, lebih indah, dan lebih besar dari sekadar menang atau kalah! (Red)





