• Jelajahi

    Copyright © sakatanews.com
    Berita aktual tepercaya

    Translate

    Kanal Video

    Menolak Tunduk pada Tekanan Politik & Clickbait: Farhan Serukan Pers Kembali ke Khittah Demokrasi

    Rabu, 12 Agustus 2026
    Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.


    BANDUNG — Di tengah hantaman disrupsi digital dan menguatnya ancaman terhadap kebebasan pers, marwah jurnalistik kini berada di pertaruhan besar. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa independensi media massa merupakan syarat mutlak yang tak bisa ditawar demi menjaga kelangsungan demokrasi di Indonesia.


    ​Pernyataan tajam tersebut disampaikan Farhan saat membuka Konferensi Provinsi (Konferprov) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat 2026 di Hotel Horison, Bandung, Rabu (12/8/2026) siang.


    ​Menurut Farhan, pers hari ini tidak hanya diuji oleh intervensi kekuasaan yang berupaya membungkam suara kritis, tetapi juga oleh ancaman pragmatisme ekonomi dan gempuran konten dangkal yang semata-mata berburu clickbait.


    ​"Di antara empat pilar demokrasi, media adalah salah satu benteng utama yang harus kita jaga independensinya. Ketika independensi itu runtuh akibat tekanan politik maupun kepentingan ekonomi, masyarakatlah yang paling dirugikan karena kehilangan hak atas informasi yang akurat," ujar Farhan di hadapan para awak media.


    ​Farhan menggarisbawahi bahwa media profesional bukanlah sekadar penyambung lidah penguasa atau alat propaganda kelompok tertentu. Sebaliknya, pers bertindak sebagai instrumen komunikasi publik yang wajib memegang teguh integritas, transparansi, serta Kode Etik Jurnalistik (KEJ).


    ​Di era banjir informasi saat ini, perbedaan antara karya jurnalistik berbobot dengan konten asal-asalan kian kasat mata di mata publik. Produk jurnalistik sejati bertumpu pada kekuatan verifikasi fakta, kedalaman riset, dan keberimbangan narasi—hal yang sering kali diabaikan oleh pembuat konten demi mengejar sensasi sesaat.


    ​Lebih lanjut, Farhan menyoroti peran penting kritik jurnalistik. Menurutnya, kritik adalah produk pers yang paling bernilai, sekaligus paling ditakuti oleh pihak-pihak yang alergi terhadap transparansi.


    ​"Kritik itu ibarat pisau bermata dua. Namun di satu sisi, kritik media adalah instrumen korektif yang sangat vital. Ia bertugas membongkar sumbatan birokrasi, mengurai penyimpangan kebijakan, serta menyuarakan aspirasi mereka yang terpinggirkan," pungkasnya.


    ​Mengakhiri orasinya, Farhan mengajak seluruh jurnalis untuk kembali ke khittah: menyajikan karya yang tidak hanya mencerdaskan dan membuka cakrawala pemikiran, tetapi juga menghadirkan pencerahan nyata bagi bangsa. (Red).


    Kolom netizen >>>

    Buka kolom netizen

    Berita Terbaru