• Jelajahi

    Copyright © sakatanews.com
    Berita aktual tepercaya

    Translate

    Kanal Video

    GEGER 60 Jam Jelang 17 Agustus: Sang Saka Jahitan Fatmawati Hilang, Ring 1 Kocar-Kacir!

    Minggu, 16 Agustus 2026
    Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA) mengibarkan Bendera Sang Saka Merah Putih.


    JAKARTA — Momen peringatan Kemerdekaan Indonesia ke-22 pada tahun 1967 hampir saja berakhir menjadi bencana politik dan rasa malu nasional yang dahsyat. Bayangkan: tinggal 60 jam menuju peringatan detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka, Bendera Pusaka jahitan Ibu Fatmawati mendadak lenyap tanpa jejak!


    ​Kepanikan hebat meledak di ring satu kekuasaan. Panitia HUT RI kocar-kacir, pejabat istana merinding ketakutan. Bagaimana mungkin kain paling sakral milik Republik—satu-satunya sang saka asli yang dikibarkan saat Proklamasi 1945—bisa hilang begitu saja di markas utama negara?

    ​

    Laci Digeledah, Hasil Nihil: Kemana Sang Saka?


    ​Menteri/Panglima Angkatan Darat saat it, Maraden Panggabean, memerintahkan pembongkaran seluruh laci, lemari, hingga sudut tersembunyi Istana Merdeka. Semua nihil. Sang saka seolah menguap ditelan bumi.

    ​

    Di tengah situasi yang kian kritis dan kepanikan yang coba ditutupi, isu panas ini akhirnya bocor ke media massa. Publik pun heboh. Sorot mata curiga langsung tertuju pada satu nama besar: Soekarno.

    ​

    Kala itu, Sang Proklamator baru saja dilengserkan dari kursi kepresidenan dan dipaksa mengosongkan Istana Merdeka. Saat Bung Karno angkat kaki menuju Wisma Yaso di Bogor, muncul spekulasi liar: Apakah sang proklamator memboyong Bendera Pusaka bersamanya?


    ​Gertakan Sang Singa di Tempat Pengasingan


    ​Dugaan itu terbukti benar. Maraden Panggabean bergegas meluncur ke Bogor. Di sana, Bendera Pusaka memang berada di tangan Soekarno. Namun, menyerahkannya begitu saja? Nanti dulu.


    ​Dengan nada menohok dan sarat intimidasi politik, Bung Karno justru melemparkan pertanyaan menohok yang menyengat harga diri perwira militer saat itu:


    ​"Apa TNI AD sanggup menyelamatkannya?!" gertak Soekarno.


    ​Singa podium itu tak sudi menyerahkan bendera sakral bangsa kepada rezim baru jika syarat-syaratnya tak dipenuhi. Bung Karno menuntut jaminan, bahkan meminta agar tempat tinggalnya dipindahkan ke Jakarta serta menentukan sendiri tempat penyimpanan Sang Saka yang layak.


    ​Pemerintahan Penjabat Presiden Soeharto dibuat ketar-ketir. Waktu terus berpacu melawan detik. Jika diplomasi ini gagal, Soeharto terpaksa menanggung malu mengibarkan bendera kain biasa di panggung perdananya sebagai penguasa baru.


    ​Drama Kurang dari 24 Jam


    ​Tak ingin wibawa pemerintahannya runtuh sebelum upacara dimulai, Soeharto mengutus armada kelas berat: Maraden Panggabean dibersamai para Panglima ABRI dari tiga matra (Darat, Laut, Udara) untuk melancarkan diplomasi tingkat tinggi.


    ​Melalui tekanan dan negosiasi yang alot, Soekarno akhirnya luluh. Namun, sebelum menyerahkannya, Bung Karno memboyong rombongan pimpinan militer itu ke lokasi yang ia kehendaki sebagai 'rumah baru' sang saka: Ruang bawah tanah Monumen Nasional (Monas).


    ​Tepat pada 16 Agustus 1967 pukul 16.00 WIB—kurang dari 24 jam sebelum dentum meriam Proklamasi berbunyi—Bendera Pusaka resmi diserahterimakan. Rezim baru akhirnya bisa bernapas lega. Sang Saka Merah Putih pun kembali berkibar gagah di langit Jakarta pada 17 Agustus 1967.


    ​Akhir dari Sebuah Era


    ​Siapa sangka, drama mencekam di balik layar itu menjadi momen pengibaran terakhir bagi Bendera Pusaka asli jahitan tangan Fatmawati. Sejak tahun 1968, demi menjaga keutuhannya, pemerintah memutuskan mengistirahatkan sang saka asli di Monas dan menggantikannya dengan bendera replika hingga hari ini.


    ​Kisah hilangnya Bendera Pusaka pada 1967 bukan sekadar masalah teknis upacara, melainkan panggung pertempuran simbolik dan pertaruhan gengsi politik paling menegangkan dalam sejarah peralihan kekuasaan di Indonesia. (W4N)

    Kolom netizen >>>

    Buka kolom netizen

    Berita Terbaru