• Jelajahi

    Copyright © sakatanews.com
    Berita aktual tepercaya

    Translate

    Kanal Video

    Dibalik Keindahan Kirab Senja: Jejak Sejarah, Kedisiplinan Anak Bangsa, dan Magisnya Ujung Petang

    Senin, 17 Agustus 2026
    Suasana pelaksanaan gelar senja di Pemprov Jawa Barat.


    JAKARTA — Ketika langit meredup dan sang surya perlahan tenggelam di ufuk barat, sebuah seremoni khidmat berkumandang di berbagai pelosok tanah air. Entak langkah baris-berbaris yang presisi, tabuhan genderang yang menggetarkan dada, serta pengibaran hingga penurunan bendera Sang Saka Merah Putih menjadi pemandangan ikonik dalam prosesi yang dikenal sebagai Parade Senja (atau Parade Surya Senja).


    ​Namun, di balik keindahan koreografi dan megahnya alunan musik drum band, tahukah Anda bagaimana tradisi ini bermula dan apa makna mendalam di baliknya?


    ​Jejak Sejarah: Dari Militer hingga Inspirasi Istana


    ​Secara historis, istilah Parade Senja berakar dari tradisi militer Sunset Parade. Di Indonesia, penamaan Parade Senja digagas oleh Wakil Polisi Militer (POM) ABRI saat itu, Kolonel Marinir Untung Suratman, sebagai terjemahan langsung dari istilah tersebut.


    ​Tradisi ini meluas ke ranah publik dan pemerintahan setelah Presiden Soeharto terpikat oleh upacara serupa dalam kunjungan kenegaraannya ke luar negeri. Bertekad menciptakan tradisi khas di lingkungan Istana Kepresidenan Indonesia, seremoni penurunan bendera pada sore hari pun resmi dihadirkan.


    ​Hingga kini, Parade Senja tidak sekadar tradisi militer belaka, melainkan ritual kebangsaan yang sakral—seperti yang rutin disaksikan di Istana Negara, Gedung Agung Yogyakarta tiap sore 17 Agustus, hingga momen retreat pejabat dan akademi militer di Magelang untuk menanamkan jiwa nasionalisme serta penguatan simbol negara.


    ​Lebih dari Sekadar Seremoni: Menempa Jiwa Kedisiplinan Generasi Muda


    ​Parade Senja bukan hanya milik prajurit bertubuh tegap. Di berbagai daerah, seperti di Gedung Negara Grahadi Surabaya melalui Parade Surya Senja, ajang ini menjelma menjadi panggung pembentukan karakter tunas-tunas bangsa.


    ​Mulai dari anak-anak TK, SD, hingga mahasiswa anggota Menwa dan pelajar SMK secara bergantian menampilkan unjuk gelar atraksi drum band serta tari-tarian kebudayaan sebelum prosesi penurunan bendera dimulai. Bahkan dalam suasana berpuasa sekalipun, derap langkah dan gelora semangat peserta muda ini tidak pernah surut, memukau warga hingga wisatawan asing yang menyaksikan.


    ​Para pejabat dan praktisi pendidikan menilai bahwa ruang penjelmaan minat bakat dalam Parade Senja adalah kawah candradimuka untuk menempa:


    1. ​Kedisiplinan dan Mental Tangguh: Mengajarkan kegigihan serta ketepatan waktu sejak dini yang akan berguna bagi profesi apa pun di masa depan.
    2. Penguatan Nasionalisme: Menanamkan rasa cinta tanah air, menghargai jasa para pahlawan, serta menghormati bendera negara.
    3. Benteng Penjaga di Era Digital: Di tengah gempuran arus informasi dan media sosial, latihan fisik serta kebersamaan dalam Parade Senja menjadi penyeimbang positif yang menghindarkan generasi muda dari ancaman bahaya narkoba maupun konten negatif.

    ​

    Simbol Penghormatan di Ujung Hari

    ​

    Saat lagu kebangsaan berkumandang dan kain Merah Putih perlahan diturunkan berlatarkan rona jingga langit sore, Parade Senja menyadarkan kita satu hal: bahwa menjaga kedaulatan dan menghormati simbol negara adalah tugas yang tak pernah padam dari terbit hingga terbenamnya matahari.


    ​Lewat keselarasan gerak, kedisiplinan tinggi, dan semangat pantang menyerah, Parade Senja hadir tidak hanya sebagai visual yang memanjakan mata, tetapi juga sebagai pengingat abadi akan identitas dan kejayaan bangsa. (W4N)

    Kolom netizen >>>

    Buka kolom netizen

    Berita Terbaru